WADUH..!!! Harga Gas LPG 3 Kg Meroket Di Desa, Warga Keluhkan Sikap Pemkab Barut

  • Whatsapp

MUARA TEWEH – Pemerintah Kabupaten Barito Utara (Barut), Kalimantan Tengah (Kalteng) dinilai masyarakat tidak serius menyikapi meroketnya harga gas elpiji 3 kilogram (kg) di Daerah Pedalaman (Desa) diluar Kota Muara Teweh sejak Februari lalu hingga kini, yang masih tetap kisaran Rp 50.000. – 60.000,- ribu pertabung.

Menurut Hadiani, warga Desa Jangkang Baru, dengan beredarnya surat Surat Edaran nomor 511/105 DISDAGRIN-C/III/2019 pada tanggal 11 Maret  2019 tentang larangan pengguna Liquefied Petroleum Gas (LPG) Tabung gas ukuran 3 kg bersubsidi mengacu pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral nomor 26 tahun 2019 tentang penyediaan dan pendistribusian Liquefied Petroleum Gas (LPG)  tabung 3 Kg,

Bacaan Lainnya

“Tidak ada dampaknya sama sekali terhadap harga elpiji 3 kg dijual dikampung setempat, tetap harganya seperti bulan-bulan lalu, ya sekarang sudah mencapai Rp. 60.000,- per tabung LPG 3 Kg,” terangnya. Senin (01/04) Kepada media lintaskalteng.com.

Ia berharap, Pemkab benar-benar serius mencermati permasalahan sosial ekonomi masyarakat saat ini, jangan hanya mengeluarkan surat edaran sementara tidak ada penindakan serta Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji 3 Kg untuk Barito Utara belum jelas, bahkan sampai ke Desa,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Firman warga Benao Hulu, “Pemkab kan punya satuan kerja yang membidangi masalah ini, maksimalkan dong kinerjanya, telusuri alur distribusi elpiji di Kabupaten Barito Utara ini, khususnya di Muara Teweh yang sampai ditribusinya ke Desa-Desa seperti Benao ini.

Kemudian saya dengar di kepolisian juga punya tim satgas pangan, nah Pemkab koordinasi dengan satgas ini, turun kelapangan, kalau kami masyarakat tidak punya keahlian dan ilmu untuk menyelidiki masalah ini, jadi kami pasrah harga seberapa aja kami beli gas tersebut, karena kebutuhan pokok,” ucapnya.

Sementara Aspoli warga Lahei meminta,” Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Barito Utara turun ke ‎lapangan, yakni mengeecek langsung kepangkalan-pangkalan gas elpiji 3 kg. Agar para wakil rakyat ini dapat memastikan tidak ada permainan atau kecurangan harga yang menimbulkan melonjaknya harga elpiji di Kota Muara Teweh, yang berdampak juga ke Kecamatan dan diharapkan juga mengontrol sub pangkalan-sub pangkalan gelap tidak berizin, yang mungkin saja mengambil kesempatan.

“Intinya kami sangat berharap Pemkab dapat menyelesaikan permasalahan harga gas elpiji 3 kg ini, jangan sampai berlarut-larut, karena kemana lagi masyarakat akan meminta pertolongan terkecuali kepada Pemkab Barut dan DPRD Barut,” harapnya

Terpisah dari salah satu pemilik warung eceran gas elpiji 3 kg di Desa Benao yang mewanti-wanti namanya jangan di sebutkan, mengatakan, bahwa dia membeli elpiji 3 kg dari pangkalan sudah mencapai Rp40.000,- sampai Rp50,000,- per tabung. Hal itupun kalau pas banyak stok, sebaliknya jika stok kurang harga bisa mencapai Rp55.000,- pertabung gas. “Jadi bagaimana saya tidak menjual harga di atas dari Rp 60.000,-  saya dagang kan mau untung,” tegasnya. (A1/Red). Editor : @admin-lintas-kalteng

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *