NEURO Ledership Menuntun Lahirnya Neuro Creativity

  • Whatsapp
Oleh : Dede Farhan Aulawi

LINTASKALTENG.COM I Persaingan yang terjadi saat ini bukan hanya di dunia usaha saja, melainkan semua orang sampai negara sedang berada pada posisi bersaing. Mungkin sebagian ada yang kurang sependapat karena istilah persaingan seolah – olah menutup ruang kolaborasi dan empathy. Padahal memang faktanya demikian, kalaupun masih ada ruang kolaborasi, itu semua justeru salah satu untuk mengungguli persaingan itu sendiri. Persoalannya adalah bersaing dengan siapa dan harus berkolaborasi dengan siapa ?

Di sinilah pintu dan ruang strategi terbuka lebar meskipun terbatas dalam catatan – catatan rahasia yang tidak selalu diungkap secara gamblang. Silakan buka kumpulan dokumen – dokumen regulasi yang dibuat untuk menciptakan keteraturan, tapi kadangkala ada “kondisi tertentu” yang menuntut untuk melanggar aturan tanpa harus berkata “langgarlah aturan”. Jika diturunkan dalam tataran mikro di perusahaan/ institusi atau bahkan dalam tataran makro, tidak semua keinginan bisa dipenuhi karena semua perusahaan/ negara selalu memiliki keterbatasan anggaran yang disesuaikan dengan alokasi dan skala prioritas. Oleh karena itu sangat diperlukan orang – orang yang kreatif, yaitu yang mampu bekerja produktif tanpa mengeluh soal keterbatasan tadi. Apalagi bagi negara – negara yang sedang membangun seperti Indonesia ini, dimana tidak bisa bicara sekedar jogging lagi, karena kita harus lari cepat mengejar ketertinggalan. Semua ini bisa dan hanya bisa dilakukan apabila setiap gerbong institusi diisi oleh orang – orang yang kreatif, yang selalu mencari dan menemukan terobosan – terobosan di tengah kesulitan dan hambatan. Mampukah kita menjadi bagian dari elemen bangsa yang kreatif yang mampu berkontribusi secara maksimal demi kemajuan bangsa dan negara ? Peneliti Roger Beaty dan tim-nya pernah mengidentifikasi pola konektivitas otak yang bervariasi antar orang, dan dikaitkan dengan kemampuan menciptakan ide – ide kreatif. Mereka melakukan penelitian dengan menggunakan mesin Functional Magnetic Resonance Imaging (FMRI) untuk mengamati kerja otak “subjek” saat menyelesaikan tugas-tugas kreatif. Hasilnya menunjukkan bahwa tugas – tugas kreatif akan mengaktifkan tiga bidang utama otak, yaitu jaringan awal, jaringan fungsi kontrol eksekutif, dan jaringan saliensi. Di mana hubungan antara koneksi otak dan kreativitas begitu kuat. Selain itu, orang kreatif lebih dapat mengendalikan koneksi di otak mereka. Pakar kreativitas seperti Clark dan Gowan dalamTeori Belahan Otak (Hemisphere Theory) mengatakan bahwa otak manusia menurut fungsinya dibagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kiri (left hemisphere) dan belahan otak kanan (right hemisphere). Otak belahan kiri mengarah kepada cara berfikir konvergen (convergen thinking), sedangkan otak belahan kanan mengarah kepada cara berfikir menyebar (difergent thinking). Otak kanan inilah yang merangsang kreativitas. Jadi otak kanan berfungsi untuk memproses bahasa dan lebih aktif ketika seseorang terlibat dalam beberapa tugas yang bersifat logis, simbolik dan berangkai seperti memecahkan persoalan matematika dan memahami materi yang bersifat teknis. Otak kanan aktif dalam berkreasi dan memberikan apresiasi terhadap seni dan musik. Sedangkan otak kiri untuk memecahkan persoalan-persoalan yang menuntut kemampuan visual-spasial, kemampuan menggunakan peta atau meniru pola berkaitan, menganalisis wajah, dan membaca ekspresi wajah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *